Ternyata hidup gak rock n roll (II)

March 6th, 2008 by bonnimeracaw

Ternyata hidup gak rock n roll beul…
Ternyata hidup gak rock n roll
Ternyata hidup gak rock n
Ternyata hidup gak rock
Ternyata hidup gak
Ternyata hidup
Ternyata
Ternyata hidup
Ternyata hidup gak
Ternyata hidup gak rock
Ternyata hidup gak rock n
Ternyata hidup gak rock n roll
Ternyata hidup gak rock n roll beul… 

saukur bewara biar jadi beware…

January 15th, 2008 by bonnimeracaw

beware …beware….!!!

wahai para jalu sadayana

ada ikrar ginih nih dari para wanita……hahahaha

mari kita rapatkan barisan…

siapkan pertahanan…
serang balik para perempuan….
wakakakaxxx…just kidding !
ini mah ngan saukur bewara biar jadi beware…


Kami manusia perempuan
yang berdiri tegak di bibir milenium baru.
Kamilah mayoritas spesies manusia,
namun berumah dalam bayang-bayang, buta huruf, pengungsi, miskin.
Dan kami bersumpah: Cukup sudah itu.

Kamilah kaum perempuan,
yang lapar - akan nasi, rumah, kemerdekaan, hubungan sesama kami,
lapar akan diri kami sendiri yang ditiadakan.
Kamilah kaum perempuan,

yang haus - akan air bersih, melek huruf, cinta, dan tawa kami sendiri.
Kami telah selalu hadir di segala jaman, setiap masyarakat.
Selamat dari pembasmian.
Memberontak - dan meninggalkan jejak.

Kamilah kesinambungan,

yang merajut masa depan dari masa lalu, logika dengan lirik.

Yang berpijak pada kejernihan dan berteriak Ya.
Kamilah kaum perempuan,

jiwa kami takkan pernah terkungkung kurungan fundamentalis manapun.
Kamilah kaum perempuan,

yang menolak kematian ditebar di kebun-kebun, udara, sungai, laut, dan rahim kami.

Setiap diri kami berharga, unik, penting.

Kami kuat dan diberkati, dan bersyukur semuanya tidak seragam.

Kamilah anak perempuan kerinduan.

Kamilah ibu hamil dan sedang melahirkan politik Abad 21.

Kamilah kaum perempuan yang ditakutkan para lelaki.
Kamilah kaum perempuan yang sadar semua adalah permasalahan kami,

yang akan mengambil kembali kearifan kami, yang menciptakan kembali hari esok,

yang mempertanyakan dan mendefinisikan kembali segalanya, termasuk kekuasaan.

Kami telah bekerja berlaksa tahun

untuk menamai kebutuhan, kemarahan, harapan, visi kami.

Telah pecah kebisuan, telah retas kesabaran.

Telah habis batas derita - sebagai penghibur atau yang diacuhkan.
Jangan ada lagi kata-kata hampa dan penantian,

kami damba tindakan, harga diri, kebahagiaan.
Kami mau lebih dari sekedar bersabar dan bertahan.

Mereka telah selalu mengingkari kami,

mendefinisikan, meredam, mengecam kami;

memenjarakan, memperbudak, mengasingkan, membunuh, memperkosa,
memukuli, membakar, mengubur hidup-hidup – bahkan membuat kami bosan.

Tapi tak satu pun, tak juga tawaran untuk menyelamatkan sistem yang gagal ini,
akan bisa membujuk kami.

Sejak ribuan tahun perempuan harus memikul tanggung jawab tanpa kekuasaan
sedang lelaki memegang kekuasaan tanpa tanggung jawab.
Kami menawarkan kepada para lelaki yang mau bersaudara, keseimbangan,

masa depan, uluran tangan.

Tapi dengan atau tanpa mereka, kami akan terus maju.

Kamilah Yang Purba, yang Baru,

Pribumi yang datang pertama tapi dikebelakangkan,

yang asli dalam dimensi yang sepenuhnya beda.

Kamilah bocah perempuan di

Zambia

,

Indonesia

, nenek di

Burma

,
perempuan di

El Salvador

dan Afganistan, Finlandia dan

Fiji

.

Kamilah senandung ikan paus dan hutan tropis;

ombak dalam yang berdebur tinggi menghantam gelas kekuasaan di darat;

yang hilang dan dihinakan, yang dalam tangis, gemetar menggapai cahaya.

Semua itu kami. Kamilah intensitas, energi, suara rakyat –

yang tak lagi sedia menunggu dan tak mungkin dihentikan.

Kami berdiri tegak di bibir milenium baru –
reruntuhan di belakang, tak ada peta di depan, rasa takut pekat di lidah.
Tapi kami akan melompat.
Imaginasi adalah penciptaan.
Penciptaan adalah kehendak.
Semua ini politis. Dan bisa.
Roti. Langit bersih. Kedamaian aktif.

Suara nyanyian perempuan mengambang di kejauhan,

melodi yang mengalir bagai asap api dapur.
Tentara ditiadakan, panen berlimpah.

Luka disembuhkan, kelahiran bayi didamba,

Tahanan dibebaskan, integritas tubuh dihormati, kekasih kembali pulang.

Keahlian magis yang membaca tanda dalam makna. Kerja setara, adil, dihargai.
Gembira bermusyawarah dalam memecahkan masalah.
Tak ada tangan yang diangkat kecuali untuk bersalam.
Interior yang kukuh - hati, rumah, negeri - begitu kukuh hingga pagar tak lagi perlu.
Dan di mana-mana tawa, perayaan, tari, kepuasaan.

Surga dunia yang sederhana, di kekinian.
Kami
akan membuatnya nyata, milik kami, menyiapkan kebijakan, sejarah,
kedamaian, kenakalan, perbedaan, cinta, hubungan, keajaiban, terbuka
bagi semua.
Percayalah.

Kami, kaum perempuan, akan mengubah dunia.

 

____________________________________________________________________________

* Di-Indonesiakan oleh Wardah Hafidz

dari judul asli "A Women’s Creed",
ditulis oleh Robin Morgan, bersama dengan Perdita Huston, Sunetra
Putri, Mahnaz Afkhami, Diane Faulkner, Corinne Kumar, Sima Wali, dan
Paola Melchiori, pada pertemuan jaringan internasional Women’s Global
Strategies,

29 November - 2 Desember 1994, disponsori oleh WEDO dan dihadiri oleh 148 perempuan dari 50 negara.

my music n your motherf@#$er lyric

August 19th, 2007 by bonnimeracaw


I’ve been living with a shadow overhead
I’ve been sleeping with a cloud above my bed
I’ve been lonely for so long
Trapped in the past, I just can’t seem to move on

I’ve been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need them again someday
I’ve been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
Oh oh oh…

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s gotta be something for my soul somewhere

I’ve been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night
I could use some direction
And I’m open to your suggestions

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end

There are moments when I don’t know if it’s real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I’m hoping you’ll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I’ll be there for you in the end

BOYZ DON’T CRY……!!!

June 20th, 2007 by bonnimeracaw

moal rek ceurik aing mah…..beul….
moal rek nyeri hate kuring mah …jing…!!!

alatan nu dipika nineung…
nu dipika nyaah….
nu dipika deudeuh…
dirogahala diruksapirusa…

pundung…pundung kudu ka saha…
keuheul…..keuheul kudu ka mana…
hanjeulu…hanjeulu ku naon…lahhh…

tarimakeun we ….
da emang kitu ayana…
da geuning kitu buktina…
geus titistulis ti nu Kawasa…

lainnn……lain pedah harga minyak goreng nerekel naek…
lain……….lain pedah diluar hujan ngagebret…!!!
lain………..lain pedah langit dor dar geulap….
lain……….lain pedah maneh beul…!!!..lainnnn !!!!

aing mah cireumbay….sumegruk bari ngusap dada teh..
alatan…..beut ku bisa2na…..beut kutega2na…
beut kukabina2 teuing atuh…
PERSIB eleh …
adu pinalti…
teu ngarti…!!!!
teu ngarti lah aing mahhh…!!!

maneh mah ….arek kumaha2 oge….
arek jungkir jumpalitan 1000 kali…
arek kukurilingan nepi lieur utah ugeur…
arek peperengkelan adug lajeur ..
aing mah teu paduliiiii….!!!
( read my lips..!!! TEU …pe-a..PA……de-u…DU…….el-i…LI..
teu paduli……!!! )

peun…cekap sakitu wae…
ti sim kuring…..
jajaka3rut tea….
hidup persib…!!! hik3x

Sepotong Senja………

June 6th, 2007 by bonnimeracaw

wah cerpen SGA ini boleh boljug juga…..
dibaca berulang kali teuteuppppppp asik…
dibaca lagih bulak balik..teuteuupppp menarik

Sepotong Senja Untuk Pacarku                              

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

nb: wahhh senangnya yg jadi alina…

I’ll stand by you…..!!!

May 28th, 2007 by bonnimeracaw

huaaaaahhhhhhh….
ternyata hidup itu susah…
tak selamanya brjalan…
sesuai dgn yg kita inginkan…

untung…gw masih punya teman…
yg mau menyisihkan waktunya untuk mmendengarkan…
yg rela membagi waktunya untuk perhatian…..

untung…ada lagu…
pretenders yg i’ll stand by you…
njrotttzz…cukup mengharu biru..

I’ll stand by you…..!!!

Oh, why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now
Don’t be ashamed to cry
Let me see you through
’cause I’ve seen the dark side too
When the night falls on you
You don’t know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less

I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you

So if you’re mad, get mad
Don’t hold it all inside
Come on and talk to me now
Hey, what you got to hide?
I get angry too
Well I’m a lot like you
When you’re standing at the crossroads
And don’t know which path to choose
Let me come along
’cause even if you’re wrong

I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
Take me in, into your darkest hour
And I’ll never desert you
I’ll stand by you

And when…
When the night falls on you, baby
You’re feeling all alone
You won’t be on your own

I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you

I’ll stand by you
Take me in, into your darkest hour
And I’ll never desert you
I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by youHrtpump

Bonnie and Clyde

May 23rd, 2007 by bonnimeracaw

Bonnie Parker and Clyde Barrow were notorious robbers and criminals who travelled the central United States during the Great Depression. Their exploits were known nationwide. They captivated the attention of the American press and its readership during what is sometimes referred to as the “public enemy era” between 1931 and 1935. Though remembered as bank robbers, Clyde Barrow preferred to rob small stores or gas stations.

Though the public at the time believed Bonnie to be a full partner in the gang, the role of Bonnie Parker in the Barrow Gang crimes has long been a source of controversy. Gang members W.D. Jones and Ralph Fults testified that they never saw Bonnie fire a gun, and described her role as logistical. Jones’ sworn statement was that “Bonnie never packed a gun, out of the five major gun battles I was with them she never fired a gun.” Writing with Phillip Steele in The Family Story of Bonnie and Clyde, Marie Barrow, Clyde’s youngest sister, made the same claim: “Bonnie never fired a shot. She just followed my brother no matter where he went.”

In his article “Bonnie and Clyde: Romeo and Juliet in a Getaway Car”, the noted writer Joseph Geringer explained part of their appeal to the public then, and their enduring legend now, by saying “Americans thrilled to their ‘Robin Hood’ adventures. The presence of a female, Bonnie, escalated the sincerity of their intentions to make them something unique and individual — even at times heroic.”
Bonnie_and_clyde

lagih sedihhhh……

May 21st, 2007 by bonnimeracaw

sedihh lagihh….

untuk kesekian kalinya…
band kehilangan anggotanya…
BONI cabrut….meneruskan mimpi2…
gak ada lagih raungan2 distorsi…

serasa ada bagian tubuh yg hilang…
serasa ada ruang kosong panjang menerawang…

dalam larut susah sedihhh….
sumpah…gw gak mau kehilangan lagihh… !!

KETIKA TANGAN DAN KAKI BERKATA

May 10th, 2007 by bonnimeracaw

sore2, dengerin lagu ….diresapin
mantabz pisan euy…….menyelinap dlm relung2 hati…menyeruak ke setiap lubang pori2…
ngabirigidig…..

salut lah buat 2 maestro kita…

KETIKA TANGAN DAN KAKI BERKATA

Song : Chrisye - Lyrics : Taufiq Ismail
AKAN DATANG HARI
MULUT DIKUNCI
KATA TAK ADA LAGI

AKAN TIBA MASA
TAK ADA SUARA
DARI MULUT KITA

BERKATA TANGAN KITA…TENTANG APA YANG DILAKUKANNYA
BERKATA KAKI KITA………..KEMANA SAJA DIA MELANGKAHNYA
TIDAK TAHU KITA…BILA HARINYA….TANGGUNG JAWAB, TIBA?

RABBANA
TANGAN KAMI
KAKI KAMI
MULUT KAMI
MATA HATI KAMI
LURUSKANLAH…KUKUHKANLAH

DI JALAN CAHAYA SEMPURNA
MOHON KARUNIA
KEPADA KAMI HAMBAMU…YANG HINA

Cak Cak

May 9th, 2007 by bonnimeracaw

mun kuring ker hayang nyumput….cak caK aya didinya
mun kuring keur hayang panggih….cak caK aya didinya
mun kuring keur baeud pundung…….cak caK aya didinya

seuri anteung ngabayangkeun ..nya’ ngabayangkeun manehna,
seuri tibra ngimpikeun, …………..nya’ ngimpikeun manehna

Lamun cak cak bisa nyarita….hariwang sieun bebeja
lamun cak cak bisa nyarita…..sok sieun sabalakana
ngadongeng kuring kumaha….sanajan bari jeung eunya

untung cak cak teu bisa nyarita….
muga-muga salawasna

[tong siah tong bisa ngomong ach,..bade kamarana atuh ari cak cak?]Gecko_kcl